cerita dari website tetangga

[umum]Baby sitterku sayang



Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.

Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku.
“Maaf yah, gue mau ke belakang dulu…”
“Ya… ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah”, jawab keempat temanku.
“Ya, nanti kututup rapat”, jawabku.
Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Hmm.. hmmm, Mas Ton”, Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.
“Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?” tanyaku keheranan.
Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.

Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah terhadap Mbak Marni.
“Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala.”
“Hmm.. hmmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny”, jawabnya.
“Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny”, ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di lantai atas.
Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, “Mbak Marni, kamu ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?” tanyaku.
“Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny.”
“Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas”, tanyaku dan memang Mbak Marni ke atas tanpa membawa minuman.
“Hmmm.. Hmmm..” ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.

Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.

“Sini Mbak”
“Lebih dekat lagi”
“Lebih dekat lagi dong..”
Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di selangkanganku.

“Mas Tonny mau apa”, tanyanya.
“Mas, mau diapain Mbak”, tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke selangkanganku.
“Udah, jangan banyak tanya”, jawabku sembari aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.
“Jangan Mas.. jangan Mas Tonny”, pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.
“Jangan Mas Ton, jangan.. jangan..” tolaknya tanpa menampik tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.

Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.

“Jangan.. jangaaan Mas Tonny”
“Akh.. akh… jangaaan, jangan Mas”
“Akh.. akh.. akh”
“Jangan.. Mas Tonnn”

Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. “Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan ber..” tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. “Ohk.. ohk.. ohk..” desahan nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.

“Okh.. okh.. Mbak.. Mbaaak”
“Terusss.. sss.. Mbak”
“Masss.. Masss.. Tonnny, saya tidak kuat lagi”
Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.

“Mbak, dibuka yah celananya.” Mbak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil anjingku.

“Shs.. shss.. sh”
“Cepat dibuka”, pinta Mbak Marni.
Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.

“Masssh.. Masss..”
“Mbak mau kellluaaar…”
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “keluar”, tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi kemaluanku tegang. “Slepp.. slepp” Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.

“Mass.. Masss pellannn donggg..” Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang surganya. “Sleep.. sleep” dan, “Heck.. heck”, suara Mbak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. “Mass.. Masss.. pelaaan..” Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. “Heck.. heck.. heck.. tolong.. tolllong Mass pelan-pelan” tak lama kemudian, “Mas Tonnny, Mbaaak keluaaar laaagi” Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, “Croot.. crooot” spermaku masuk ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.

Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu aku keluar tadi. “Tonnny.. tolong bukain dong, pintunya” Maka cepat-cepat kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh mamaku lalu kusuruh pulang.

Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah merenggut keperawanannya.
“Mbak, maafin Tonny yah!”
“Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok”
“Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir tetangga”, jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni bersedia melakukannya.

Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.

Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.

TAMAT

[umum]Basketball girl



Hi, Kembali aku akan menceritakan pengalamanku di sekolahku. Mungkin Anda sudah melihat cerita SCHOOL LOVERS milikku. Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku yang tak kalah menarik dengan cerita itu. Namaku Alex. Aku sekolah di salah satu SMU terkemuka di Semarang.

Dua bulan setelah aku menikmati threesome-ku bersama Fanny dan Christina, aku menambah lagi daftar cewek yang pernah bercinta denganku. Ketika itu, sekolahku sedang mengikuti persiapan untuk lomba basket HEXOS Cup. Sebagai pemain inti tentu saja aku mengikuti program latihan yang diberikan oleh pelatih. Kami diharuskan menginap di sekolah untuk suatu latihan. Yah, terpaksa aku menginap juga di sekolah. Ternyata yang menginap tidak hanya tim basket putra tetapi juga tim basket putri. Dalam hati aku bersorak gembira karena di tim basket putri di sekolahku terdapat banyak cewek cantik. Apalagi pakaian tim cewek memang sangat sexy. Memang mereka bisa main basket, cuma yang bisa bermain bagus hanya satu atau dua orang saja. Aku datang ke sekolah pukul 16:00 WIB. Setelah menaruh tasku di kelas, aku segera bergabung dengan teman-temanku.

Saat itu langit masih agak terang, sehingga aku masih bisa bermain di lapangan basket yang outdoor. Latihan berjalan seperti biasa. Pemanasan, latihan lay-up dan permainan. Seperti biasa, putra dan putri dicampur. Jadi di satu tim terdapat 3 cowok dan 2 cewek. Aku main seperti biasa tidak terlalu ngotot. Saat itu tim lawan sedang menekan timku. Vinna sedang melakukan jump shoot, aku berusaha menghalanginya dengan melakukan blocking. Namun usahaku gagal, tanganku justru menyentuh bagian terlarangnya. Aku benar-benar tidak bermaksud menyentuh dadanya. Memang dadanya tidak terlalu besar namun setelah menyentuhnya kurasakan payudaranya sangat kenyal. Lalu aku meminta maaf kepadanya. Vinna pun menerima maafku dengan wajah agak merah. Setelah itu giliran timku melakukan serangan. Lagi-lagi aku berhadapan dengan Vinna. Aku berusaha menerobos defend dari Vinna. Namun tak sengaja aku menjatuhkan Vinna dan aku dikenai personal foul. Aku mencoba membantu Vinna berdiri. Kulihat kakinya berdarah, lalu kutawarkan untuk mengantarkannya membesihkan luka itu. Vinna pun menerima ajakanku. Kami pun berjalan menuju ke ruang guru yang jaraknya memang agak jauh dengan lapangan basket. Vinna berjalan tertatih-tatih, maka kubantu ia bejalan. Saat itu sekolahku sudah kosong semua, hanya tinggal kami tim basket dan karyawan sekolah.

Sesampainya di ruang guru, aku segera mengambil peralatan P3K. Kubasahi luka di paha kiri Vinna dengan perlahan. Sesekali Vinna mendesah kesakitan. Setelah kucuci lukanya, kuberi obat merah dan kuperban kakinya. Saat menangani lukanya, baru kusadari bahwa Vinna juga memiliki kaki yang menurutku sangat sexy. Kakinya sangat panjang dan mulus. Apalagi dia hanya mengenakan celana pendek. Kuarahkan pandanganku ke atas. Dadanya tidak terlalu besar, namun cukuplah bagi cewek berusia 16 tahun. Oh ya.. Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus panjang sebahu, kulitnya putih mulus, dia Chinese sepertiku. Tingginya 172 cm dan beratnya kira-kira 50 kg.

Tiba-tiba kudengar erangan Vinna yang membangunkanku dari lamunanku.
“Ada apa Vin?” kutanya dia dengan lembut.
“Kakiku rasanya sakit banget.” jawabnya.
“Di mana Vin?” tanyaku dengan agak panik.
“Di sekitar lukaku..”

Kupegang daerah di sekitar lukanya dan mulai memijatnya. Penisku lama-lama bangun apalagi mendengar desahan Vinna. Tampaknya ini hanya taktik Vinna untuk mendekatiku. Aku pun tak bisa berpikir jernih lagi. Segera saja kulumat bibir Vinna yang indah itu. Vinna pun tak mencoba melepaskan diri. Ia sangat menikmati ciumanku. Perlahan, Vinna pun membalas ciumanku. Tanganku mulai merambah ke daerah dadanya. Kuraba dadanya dari luar bajunya yang basah oleh keringat. Vinna semakin terangsang. Kucoba membuka bajunya, namun aku tidak ingin buru-buru. Kuhentikan seranganku. Vinna yang sudah terangsang agak kaget dengan sikapku. Namun aku menjelaskan bahwa aku tak ingin terburu-buru dan Vinna pun dapat memahami alasanku walaupun ia merasa sangat kecewa. Kemudian aku membantunya kembali ke lapangan. Sebelum kembali ke lapangan aku mencium mulutnya sekali lagi. Kami pun berjanji untuk bertemu di ruang kelas IB setelah latihan selesai. Dalam hati aku berjanji bahwa aku harus merasakan kenikmatan tubuhnya. Sisa latihan malam itu pun kulakukan dengan separuh hati.

Setelah latihan, kami semua mandi dan beristirahat. Kesempatan bebas itulah yang kami gunakan untuk bertemu. Di ruang kelas itu kami saling mengobrol dengan bebas. Aku pun tahu bahwa Vinna belum pernah memiliki pacar sebelumnya dan kurasa dia menaruh hati padaku. Perasaanku padanya biasa-biasa saja. Namun mendapat kesempatan ini aku pun tak ingin melewatkannya. Kami pun mengobrol dengan santai. Vinna pun bermanja-manja denganku. Kepalanya disandarkan ke bahuku dan aku pun membelai rambutnya yang wangi itu. Entah siapa yang memulai, kami saling berpagutan satu sama lain. Bibirnya yang hangat telah menempel dengan bibirku. Lidah kami pun saling beradu. Kuarahkan ciumanku ke bawah. Kupagut lehernya dengan lembut sehingga Vinna mendesah. Tanganku mulai aktif melancarkan serangan ke dada Vinna. Kurasakan payudara Vinna mulai mengeras. Kusingkap T-Shirt pink miliknya dan terlihatlah payudara Vinna terbungkus Triumph 32B. Ketika aku akan melancarkan seranganku, Vinna tiba-tiba melarang. Kali ini dia yang belum siap. Rupanya ia ingin melakukannya secara utuh denganku di suatu tempat yang pantas. Aku pun memahami maksudnya. Akhirnya kami hanya berciuman saja.

Keesokan harinya, kami kembali melakukan latihan basket. Namun Vinna hanya melakukan latihan ringan saja. Pukul 13:00 kami boleh pulang ke rumah masing-masing. Kutawarkan tumpangan kepada Vinna. Aku memang membawa mobil sendiri ke sekolah. Kuantarkan ke rumahnya di sebuah jalan besar. Sesampainya di sana, aku diajaknya masuk ke rumahnya. Aku tahu bahwa Vinna tidak tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk mengurus bisnis mereka. Vinna memang anak orang kaya. Pertama-tama aku minta ijin memakai kamar mandinya untuk mandi sejenak. Setelah selesai, aku menunggu di kamarnya. Kamarnya cukup luas. Suasananya pun cukup enak. Aku kini mengerti mengapa Vinna tak ingin melakukannya di kelas. Vinna juga sedang mandi rupanya. Memang cewek kalau mandi itu agak lama.

Tak lama, Vinna keluar dari kamar mandi dengan mengenakan T-Shirt Hello Kitty berwarna biru muda dengan celana pendek. Lalu kami pun berbincang-bincang. Aku pun memuji kecantikannya. Setelah agak lama berbincang, kami saling memandang dan kami pun mulai berciuman. Ciuman kali ini sangat kunikmati. Kuraba dengan lembut payudara Vinna. Kemudian kubuka baju Vinna dan terlihatlah BH hitam membungkus payudara yang sangat indah. Aku termenung sejenak lalu mulai melepas pakaianku dan pakaiannya. Aku sudah telanjang sedangkan Vinna masih mengenakan pakaian dalam berwarna hitam. Kulanjutkan ciumanku di dada Vinna. Vinna melenguh perlahan menikmati perlakuanku.

Perlahan-lahan kuarahkan mulutku di antara dua belahan pahanya yang mulus. Lalu kusentuh permukaan celana dalamnya yang sexy dengan ujung lidahku. Badan Vinna seperti mengejang perlahan. Kuliarkan lidahku di celana dalamnya. Vinna pun mendesah nikmat karena lidahku mengenai klistorisnya. Kulepas BH dan CD-nya hingga tampaklah sesosok tubuh yang sangat indah dan proporsional. Tubuhnya tak kalah dibandingkan Fanny maupun Christina (baca: SCHOOL LOVERS).

Kembali aku mempermainkan buah dadanya. Buah dadanya sudah mulai menegang dan bentuknya pun menjadi sangat indah walaupun tidak besar. Kugigit-gigit lembut putingnya yang menegang keras. Kuturunkan ciumanku ke arah rambut-rambut halus yang tertata rapi di bagian bawah tubuhnya. Kucium harum khas kemaluan Vinna. Kujulurkan lidahku masuk ke dalam belahan kemaluannya dan berusaha menemukan klistorisnya. Ketika kutemukan daging kecil itu, Vinna mengeluarkan desahan-desahan yang sangat merangsang diriku. Aku semakin bergairah untuk merasakan sempitnya kemaluannya. Kemaluannya terus kulumat dengan lidahku. Tak lama kemudian, kurasakan kepalaku dijepit oleh kedua belah paha Vinna. Badan Vinna mulai mengejang, melonjak dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Vinna telah mencapai orgasme pertamanya bersamaku. Kubiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa menit dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Kemudian Vinna terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya tadi. Ia sangat menikmati orgasme nya tadi.

Memahami kebutuhanku, Vinna kembali aktif. Vinna meraih batang kemaluanku dan menyentuhkan lidahnya ke kepala penisku. Kurasakan hisapannya masih malu-malu. Tapi terus kumotivasi dia dengan ucapan-ucapan kotor. Dan usahaku berhasil. Lama-lama Vinna tidak lagi merasa canggung. Hisapannya mulai membuatku mendesah. Ukuran mulut Vinna pas sekali dengan lebar penisku. Jadi kenikmatan yang kudapat sangatlah nikmat. Aku pun tak mau diam. Kuraih kedua paha Vinna dan kubenamkan kepalaku diantaranya. Sehingga kami membentuk sikap 69. Rangsangan-rangsangan yang telah menjalari tubuh kami berdua rupanya sudah semakin hebat dan tak dapat ditahan lagi. Vinna bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman sejenak.

Aku bertanya, “Vin, aku masukkan ya?” Dengan lemah, Vinna pun menganggukkan kepala. Kubaringkan tubuhnya ke ranjang, kuangkat kedua belah tungkainya yang muluh ke bahuku. Kuarahkan kepala kemaluanku menuju ke arah kemaluannya. Lalu kumasukkan kepalanya dahulu ke dalam milik Vinna. Rupanya kemaluan Vinna sangat sempit. Tidak dapat kumasuki. Vinna mendesah kesakitan sambil melonjak ketika aku mencoba menekannya. Sebenarnya aku senang mendapat vagina yang begitu sempit. Namun aku sangat kesulitan memasukkannya. Aku sudah sangat bersusah payah melakukannya. Aku sangat berhati-hati dalam melakukannya, karena aku tak mau menyakiti Vinna. Aku merasa kasihan pada Vinna. Vinna terpaksa harus menahan gejolak nafsu dalam dirinya karena hal ini. Wajahnya terlihat sangat menderita. Terpaksa kuambil jalan pintas. Kumasukkan sekali lagi kepala kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Vinna dan kudorong sekuat tenaga, namun gagal. Justru aku kesakitan sendiri. Vinna pun menjerit kesakitan. Kucoba menenangkannya sebentar. Lalu kucoba lagi.

Setalh 5 menit akhirnya berhasil. Penisku ternyata dapat masuk seluruhnya ke dalam milik Vinna. Dapat dikatakan sangat pas. Kurasa milik Vinna sangat dalam, karena dari semua cewek yang pernah ML denganku, vaginanya tak ada yang dapat menampung milikku. Paling-paling hanya 3/4-nya. Mungkin karena Vinna itu tinggi sehingga vaginanya juga dalam.

Setelah masuk semua, kudiamkan beberapa saat agar Vinna terbiasa. Lalu penisku mulai kutekan-tekankan perlahan-lahan. Vinna masih mendesah kesakitan. Walau penisku dapat masuk semuanya tapi ini sangat terasa sempit. Lama-lama kugerakkan agak cepat. Vinna sudah dapat mengikuti permainanku. Ia sudah dapat mendesah nikmat. Klistorisnya tergesek terus oleh milikku. Setelah agak lama, kuganti posisi. Aku berada terlentang di ranjang dan Vinna berada di atasku menghadap ke arahku. Dengan posisi ini, Vinna dapat mengatur sendiri kecepatan penisku. Vinna menggerakkan sendiri pantatnya. Aku pun menaikkan pantatku saat Vinna menurunkan pantatnya. Tanganku pun berada di kedua bukit kembarnya. Sensasi ini sungguh luar biasa. Vinna sangat menikmati permainan ini. Vinna mendesah lantang dan ia bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin melelahkan, sampai akhirnya Vinna mengejang dan membusurkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk memperlama waktu orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat. Aku menatap wajahnya yang menunjukan rasa bahagia.

Setelah memulihkan tenaga sesaat. Kembali aku melakukan permainan. Kali ini doggy style. Kubimbing ia pada posisi itu. Aku berdiri di belakangnya dan menusukkan penisku ke dalam miliknya. Kugerakkan penisku perlahan, namun lama-lama semakin cepat. Vinna berulangkali mendesah sambil mengucapkan kata-kata kotor yang tak dapat kubayangkan mampu keluar dari mulut gadis cantik seperti dia. Sampai akhirnya aku merasakan spermaku sudah mengumpul di penisku. Kukatakan padanya aku hampir orgasme. Dia pun hampir orgasme. Kupercepat laju penisku di dalam vaginanya. Kubuat agar Vinna keluar terlebih dahulu. Vinna pun meraih orgasmenya yang ketiga. Kubiarkan penisku di dalam vaginanya untuk menambah sensasi baginya, walau aku harus mati-matian menahan laju spermaku agar tidak muntah di dalam. Kemudian, kucabut penisku dan kumasukkan dalam mulutnya. Spermaku ternyata tidak mau keluar. Vinna pun berinisiatif mengulum penisku. Tak lama kemudian, spermaku muncrat di dalam mulutnya. Spermaku keluar banyak sekali. Vinna kaget, namun ia segera menelannya. Kami diam sesaat. “Vin, kamu masih kuat untuk main lagi?” tanyaku nakal. “Tentu donk..” jawabnya mesra. Vinna memang memiliki stamina yang kuat. Walaupun tubuhnya telah basah oleh peluh keringat, ia masih belum capai.

Setelah penisku kembali tegang, aku duduk dan Vinna duduk di atasku. Kumasukkan kembali penisku ke dalam vaginanya. Kali ini sudah tidak sesulit tadi walaupun masih agak rapat. Kugoyangkan pantatnya untuk meraih kenikmatan. Kugesek-gesek klistorisnya dengan penisku. Vinna kembali bergairah menyambutnya. Lalu kucoba menusukkan penisku keras-keras. Rasanya sungguh luar biasa. Vinna sangat menyukai tusukan itu. Ketika spermaku sudah mengumpul lagi, aku berganti posisi. Vinna kutidurkan terlentang lalu aku tengkurap di atasnya. Kugerakkan pantatku naik turun dengan cepat. Namun Vinna kurang menyukai posisi ini. Kuanjurkan dia untuk tengkurap di atas ranjang dan aku di atasnya. Seperti kura-kura saling menumpang. Kumasukkan penisku ke dalam liang kenikmatannya. Vinna kembali merasakan rasa puas. Kugerakkan penisku dengan cepat. Vinna akhirnya keluar juga untuk yang keempat kalinya. Aku pun mengeluarkan spermaku lagi di kedua belah dadanya. Kami pun tertidur selama beberapa jam. Ketika aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 19:30. Aku pun mencoba bangkit dari ranjang. Vinna pun terbangun. Saat itulah Vinna mengungkapkan perasaannya padaku. Kuterima cintanya dengan tulus. Kami pun berpacaran. Setelah 5 bulan berpacaran, kami pun putus dengan baik-baik. Tapi aku tetap menyukainya. Vin, di mana pun kamu, kalau kau membaca cerita ini. Ingatlah selalu kepadaku!

Jika ada saran, kritik dan tanggapan dari para pembaca, silakan hubungi penulis via e-mail.

TAMAT

[perkosaan]Perampokan aneh



Malam itu udara di kota Gudeg begitu panas. Aku merasa gerah dan gelisah. Herannya isteriku bisa langsung tertidur pulas. Mungkin ia lelah karena sudah berdagang seharian di toko grosir kami. Karena gelisah, pikiranku terbang melayang entah ke mana. Kucoba mengingat apa yang sudah terjadi selama sehari itu. Tak ada yang istimewa memang, tapi ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya dalam hati. Saat aku menyetor uang ke BCA tadi pagi, petugas teller yang biasa melayani penyetoran uangku, terus saja memandangku dan tersenyum. Ada sesuatu dalam senyumannya itu. Entah apa. Sambil terus tersenyum ia menjilati bibirnya yang bergincu merah delima itu. Karena curiga, aku lalu mengajaknya ngobrol sambil ia menghitung tumpukan uang seratusan ribu milikku.

“Mbak Sri kok senyum terus sih hari ini? Sedang senang ya? Bagi-bagi dong kesenangannya.. Ada apa toh, Mbak?” tanyaku memancingnya.
“Ah nggak pa-pa, Pak Ivan.. ‘kan jadi teller begini musti banyak senyum..” jawabnya dengan lembut.
“Oh gitu toh… eh ya, Mbak udah menikah belum? Suaminya kerja di mana?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Udah dong Pak.. Suami saya pedagang kecil-kecilan yang membuka kios di dekat Hero Supermarket, tidak jauh dari rumah kami… Oh ya, uangnya pas Pak.. Empat puluh juta.. Dan ini bukti setorannya…” jawabnya masih dengan wajah tersenyum. Kali ini senyumnya jauh lebih genit daripada yang tadi. Melihat itu aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ah.. mungkin saja aku yang gede rasa, ia bisa saja berlaku begitu pada nasabah yang lain. Aku pun kemudian pulang dengan mazda-ku.

Memang salah satu hal yang membuatku rajin untuk menyetor dan menabung uang di BCA itu adalah para tellernya yang sebagian besar wanita. Putih, seksi dan cantik-cantik. Terkadang aku sering memperhatikan secara seksama bentuk tubuh Sri Astuti, teller yang tadi kuceritakan. Saat ia berjalan menuju mesin penghitung uang, tubuhnya begitu menggiurkan. Tingginya mungkin sekitar 165 cm, berambut lurus panjang sebahu, kulit putih mulus tanpa cacat dengan rok mini sekitar 15 cm di atas lutut. Tapi yang paling indah dan menarik adalah bulatan di dadanya itu. Bisa kutaksir ia mungkin memakai BH ukuran 38B. Begitu besar dan menantang payudaranya itu. Kejantananku serasa bergairah dan aku menjadi terangsang bila mengingat semua itu.

“Lho kok melamun, Mas..” tiba-tiba terdengar suara isteriku. Rupanya ia terbangun dan sempat melihatku seperti melongo dan tersenyum-senyum sendiri.
“Ah Jeng.. kok terbangun.. aku ora bisa tidur.. hawanya panas ya..” jawabku sekenanya.
“Masa toh, Mas? Padahal tadi pagi ‘kan hujan..” jawab isteriku sambil menguap dalam-dalam. Rupanya ia amat mengantuk.
Kutatap isteriku lekat-lekat. Wajahnya memang tak kalah cantik dibandingkan Sri Astuti. Tubuhnya pun sama-sama menggairahkan. Apalagi ia belum pernah hamil dan melahirkan. Ya, kami memang belum punya anak setelah menikah 2 tahun ini.

Tiba-tiba… “Brak…!” Sepertinya suara pintu depan rumah ditendang dan didobrak orang dengan keras. Mendengar itu hatiku langsung deg-degan. Belakangan ini lingkungan sekitar tempat tinggal kami kena giliran dirampok. Perampoknya, kata tetangga sebelah, dua orang berpakaian hitam-hitam ala ninja di Jepang dan membawa semacam golok panjang, mirip samurai rupanya. Aku langsung bangkit dari ranjang sambil membangunkan isteriku yang kelihatannya hampir tertidur lagi saat itu. Tapi terlambat… “Brak…Buk..!” Pintu kamarku telah terbuka dan masuklah dua orang manusia berpakaian ninja. Yang satu tinggi dan kekar badannya. Yang satu lagi berperawakan sedang dan tidak begitu kekar. Wajah keduanya juga ditutup dengan kain hitam. Yang terlihat hanya mata mereka yang besar, hitam dan bulat.

“Diam di tempat… Kalo tidak akan kutebas leher kalian dengan golok ini…” Yang tinggi terdengar membentak. Suaranya begitu parau dan galak. Wah.. golok keduanya memang kelihatan panjang, besar dan tajam. Aku bergidik ngeri.
“A..A..Ampun… ampun Pak.. Tolong jangan ganggu kami.. kalo mau uang silakan ambil di lemari..” kataku dengan suara gemetar sambil menunjuk lemari di sebelah ranjang kami. Isteriku pun memelukku ketakutan setengah mati.
“Jangan banyak bicara kamu.. bukan uang yang kami minta.. tapi kalian harus bisa memuaskan kami..” kata Si Tinggi sambil memberi kode anggukan kepala kepada temannya. Temannya pun mendekati dan mengacungkan golok ke leherku.
“Ayo ikut aku…” terdengar suara temannya si tinggi itu.

Sepertinya aku mengenal suara feminin ini. Tapi di mana ya. Ya betul, perampok satunya ini adalah seorang wanita! Dengan kasar ia mendorongku sambil tangannya tetap mengarahkan golok ke leherku. “Ayo jalan ke kamar sebelah..!” Perintahnya lagi. Aku bingung. Hendak diapakan aku. Lalu apa pula yang akan dilakukan si Tinggi terhadap isteriku di kamar kami. Setelah sampai di kamar sebelah, aku disuruh melakukan sesuatu yang aneh.

“Buka seluruh pakaianmu… dan naik ke ranjang itu… Jangan turun dari sana, sebelum aku suruh..!” perintahnya ketus.
“Ya.. ya… baik… baiklah…” dengan penuh ketakutan aku membuka baju dan celana tidurku lalu naik ke tempat tidur yang biasanya dipakai untuk tamu yang menginap di rumah. Aku lalu memandang perampok itu dan terheran-heran melihat apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia membuka seluruh pakaian ninjanya!! Ya.. aku pun dibuat kaget dan terbengong-bengong setelah melihat siapa sebenarnya perampok itu. Sri Astuti!

“Lho kok Mbak Sri… Anda…” Ia tidak membiarkan aku melanjutkan perkataanku. Goloknya keburu kembali menempel di leherku. Ia pun berkata, “Layani aku sampai puas malam ini… kalo tidak akan kusuruh suamiku di kamar tidurmu untuk memperkosa isterimu…” ancamnya. Senyum yang pagi tadi kulihat di wajahnya yang cantik sudah tidak terlihat lagi. Kini senyuman itu sudah berganti dengan mimik muka yang amat bengis. Melihat tubuh telanjangnya dengan raut wajah yang amat kejam di dekatku sekarang, mula-mula aku tidak terangsang. Namun apa yang dilakukannya kemudian menjadi lain adanya.

Dengan keras dipegangnya batang kejantananku yang masih loyo. Lalu dikocok-kocoknya pelan-pelan. Lima menit kemudian, ia pun duduk berlutut di dekat tubuhku. Diraihnya batang kejantananku dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Ia menghisap, mengusap, memilin dan menjilati kepala batang kejantananku dengan penuh nafsu. “Ah.. ah… ah…” aku hanya bisa mendesah dan kedua mataku terbeliak ke atas karena merasakan nikmatnya sesuatu yang seperti surga dunia. Aku mencoba merangsangnya dengan meraih buah dadanya lalu meremasnya. Begitu besar menantang dan menggairahkan. Putingnya kecoklatan dan mulai kelihatan mengeras dan tegak sekarang. Aku terus merangsangnya dengan mencoba memasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke liang senggamanya. Melihat apa yang kuperbuat, ia merubah posisinya. Pantatnya yang bulat dan besar dihadapkan ke wajahku sementara mulutnya terus sibuk menghisap dan menjilati senjataku yang mulai mengeras dan panjang. Siap untuk ditembakkan. Aku pun berusaha menjilati bagian sekitar klitorisnya sambil memasukkan jari telunjuk ke liang senggamanya yang beraroma semerbak itu.

Tak lama kemudian ia naik ke atas perutku. Posisinya membelakangiku. Dengan penuh nafsu ia menduduki batang kejantananku yang sudah menegang itu dan dimasukkan ke liang kewanitaannya. “Blees.. Clep.. clep.. cleep..” batang kejantananku sudah separuh masuk dan Sri Astuti terus saja naik turun seperti orang menunggang kuda pacunya. Kedua tangannya memegang payudaranya. Ia pun mendesah. “Uh.. uh.. ah.. ah…” Aku yang melihatnya menjadi terangsang berat. Kini giliranku yang mengambil peranan. Kuangkat tubuhnya dari batang kejantananku. Lalu kubuat dia menungging. Tanpa ba bi bu lagi kuarahkan batang kejantanan ke liang senggamanya dari belakang. “Bles.. cep.. bles..” Lebih dari separuh batang kejantananku masuk. Aku pun bergerak maju mundur. Sementara Sri terus saja berusaha mengimbangi permainanku. Kedua tangannya memegang ujung tempat tidur. Kedua tanganku dengan liar bergerak ke arah payudaranya. Kuremas-remas dan kupegang-pegang dengan penuh gairah. Aku juga mencium bagian punggungnya. Wah wangi sekali parfum yang dikenakannya. Tidak terasa bau keringatnya yang walaupun sudah menetes karena panasnya gairah kami.

Setelah sekitar dua puluh lima kali mengobok-obok liang senggamanya dengan batang kejantanan andalanku, aku pun kemudian membalikkan tubuhnya. Kugendong tubuhnya dalam posisi kami saling berhadapan. Batang kejantananku dengan sigap kuarahkan ke liang senggamanya. Aku menyetubuhinya sambil menggendongnya. “Ah… ah… ah… aku puas Pak Ivan… tak kusangka Bapak sanggup memuaskan saya… Tetangga Bapak semuanya tidak berguna..” erangnya sambil mendesah lagi.

Sepuluh menit kemudian kubaringkan tubuhnya ke kasur karena aku merasa ada sesuatu yang meledak-ledak hendak keluar dari tubuhku. Ya, aku hendak ejakulasi. “Ke mukaku saja Pak …” pinta Sri ketika aku hendak mengeluarkan sperma di atas perut dan dadanya. Dan “Crottt.. crottt.. crott.. crott..” Sperma putihku meluncur dari sarangnya dengan deras ke arah mulut Sri Astuti. Ia sengaja membuka mulutnya seolah-olah seperti anak kecil siap menerima minuman sirup jeruk yang manis. Yang tak kusangka, ia menelan semua spermaku yang keluar. Dan batang kejantananku pun masih terus dihisapnya lagi. Seolah-olah ia berkata siap untuk menelan sperma lagi jika batang kejantanan masih terus menyembur. Dijilatinya sisa-sisa yang ada.

Satu jam kemudian kami berempat duduk di ruang tamu. Apa yang diceritakan mereka sungguh membuat kami bingung dan terkejut. Mereka dengan sengaja mendatangi rumah-rumah nasabah Sri Astuti. Setiap malam sekitar dua rumah mereka satroni hanya untuk membuat Sri menjadi puas nafsu seksnya. Suaminya tidak mampu memuaskan karena nafsu seksnya begitu besar. Padahal Boby suaminya tidak impoten. Ia hanya kewalahan dengan nafsu seks isterinya. Setiap hari ia minta dilayani sampai tujuh kali berturut-turut. Makanya untuk mencukupkan kebutuhan seksnya itu mereka sengaja mencari orang-orang yang mereka kenal betul guna ikut membantu. Duh.. dunia rupanya sudah bejat.

Tapi aku patut bersyukur. Di samping karena apa yang selama ini kulamunkan (walau tanpa sepengetahuan isteriku) sudah terpuaskan, malam itu isteriku juga tidak diapa-apakan selama aku melayani kebutuhan si bahenol Sri Astuti.

Bila ada pembaca wanita yang ingin nafsu seksnya dipuaskan oleh saya karena di rumah merasa kurang atau suami belum punya, silahkan hubungi saya via e-mail secepatnya! Anda pasti puas. Gaya apapun yang Anda minta, pasti akan saya penuhi. Janji!

TAMAT

Beastiality



Hallo pembaca KASKUS, namaku Virgi, umurku 18 tahun, saat itu aku masih SMU. Aku ingin berbagi pengalamanku yang benar benar nyata. Aku mulai saja ceritanya.

Pada waktu bulan mei tahun 2005 ada liburan sekolah selama 2 minggu. Saat itu orang tuaku sedang ada acara pesta diluar kota yaitu perkimpoian teman ayahku saat SMP. Bulan Juni aku ada test Semesteran, sehingga aku tidak boleh ikut ke pesta.

Aku dirumah sendirian bersama anjing peliharaaanku namanya Bruno. Hari pertama aku dirumah sendirian perasaanku biasa biasa saja. Pada hari ke 2, saat aku bangun tidur aku rasanya males banget dirumah. Karena dirumah tidak ada seorangpun, setelah selesai mandi aku tidak menggenakan sehelai benang apapun karena aku merasa males untuk pake baju, apalagi dirumah sendirian. Nah, setelah mandi aku memberi makan anjingku, aku memanggilnya “Bruno, Bruno..” lalu dia datang menghampiriku soalnya dia tahu kalau dia akan aku beri makan, sambil menggongong dia melihat makanan yang sedang aku buatkan.

Pada saat dia jongkok entah kenapa aku melihat batang kemaluannya yang besar berwarna merah menjulur keluar dari sarungnya. Tiba tiba birahiku naik dan kutaruh makanannya di lantai, lalu aku masuk kekamarku dan mastrubasi sambil membayangkan seandainya aku berhubungan seks dengan bruno.

Pada saat aku sedang terbaring diranjang smabil meremas payudaraku, bruno datang dan menggongong meminta makan lagi, aku lalu menggambil mentega dan kembali berbaring diranjangku lagi sambil menggoleskannya di bibir vagina ku yang sudah basah. Lalu aku menyuruhnya menjilatnya, bruno pun datang dan menjilati mentega yang aku oleskan, sehingga kau klimaks.

Setelah dia selesai menjila mentega yang bercampur cairan kewanitaannku, dia ingin keluar dari kamarku, tetapi aku cepat cepat menutup pintu kamarku sehingga dia tidak bisa keluar. Lalu aku bergaya doggy style dan menarik bruno yang berbadan besar kepunggungku, aku menggesek gesekkan kemaluanku ke kemaluannya. Dia pun mengerti apa yang diinginkan majikannya, lalu dia mencoba menucukan batang kemaluannya yang besar ke vaginaku. Karena gagal masuk lalu aku membantu memasukkannya.

Setelah masuk ah…ah…ah…rasa perih karena kemaluannya yang besar bercampur geli membuatku nikamt, lalu setelah beberapa saat aku merasa ada cairan hangat yang menyembur dlam liang vaginaku. Akhirnya aku klimaks dan rasanya benar nikmat tetapi saat klimaks kemaluan bruno masih tertanam dalam kemaluanku yang basah, karena kemaluannya yang membesar seperti kacang yang besar sehngga tidak dapat keluar. Aku dan bruno bergesek gesekan pantat.

Setelah selesai aku mandi dan membersihkan tubuhku, sedangkan bruno menjilati kemaluannya yang basah karena cairannku. Saat ini aku masih sering melakukan hubungan seks dengan anjingku saat aku sendirian dirumah.

Tamat….

Nikmatnya Kolam Renang Ancol



Aku tinggal disuatu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Timur , tidak terlampau besar , kurang lebih dihuni oleh 150 keluarga kelas menengah keatas .
Hanya beda 1 jalan dari rumah , dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya . Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing?kutilang ( kurus tinggi langsing ) , kulitnya kuning , rambutnya hitam abis dan matanya tuh?geunit pisan .
Dikompleks diantara Bapak – bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering , giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah .
Enggak lain enggak bukan soalnya Mbak Candra begitu namanya , terkenal kalau pakai baju paling berani , pakai rok mini baju rendah belahannya dan paling sering ngongkong duduknya .
Yang lebih gile lagi kalau dia tahu sang Bapak ada dan ngelirik doi , secara sengaja dia pamerin CD nya yang sumpah jembutnya sebagian betebaran nongol keluar dari pinggiran CD-nya .
Bulan lalu , rumah gue yang ketiban rejeki ngadain arisan , so pasti gue pura -pura repot bantuin bokin nyiapin segalanya , tau dong gue musti tampil keren abis , jeans Versace dan baju gombrong Guess sengaja gue lepas kancing atasnya , biar sexy katanya .
Bener aja , gue liat si Mbak Candra duduk dipojokan menghadap kamar kerja gue yang pintunya gue buka setengah aja .
Sambil menghadap komputer secara nyamping gue bisa melihat kearah ruang keluarga , khususnya kearah doi duduk .
Sundel banget , doi sore itu pakai rok mini hitam kontras dengan kulitnya dan pakai baju beige yang ketat , tapi bahannya alus banget . Gue masa bodo deh denger ibu – ibu berkicau yang penting gue bisa liat terus Mbak Candra yang sesekali juga ngelirik gue , kalau bertatapan gue senyum doi juga dong .
Mulailah doi buka jepitan pahanya , asli coy celana dalemnya yang krem keliatan , tengahnya keliatan item pasti karena jembutnya yang lebat , dan duile itu jembut gimana sih koq pada berurai keluar .
Tiba – tiba doi ngedipin gue , terus gue bales ngedip sambil julurin lidah , eh dia malah senyum senyum dan sambil meremin matanya seperti orang kalau lagi keasyikan di toi .
Gue makin nekad , sekarang gue ngadep kedia sambil ngangkang dan secara atarktif gue usap-usap ****** gue dari luar celana ,
terus gue kasih kode supaya dia menuju kamar mandi , belagak kencing lah .
Doi ngangguk , terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi .
Gue dan doi tahu banget , dikamar mandi luar masih dipakai sama ibu Agus yang gendut dan beser melulu .
? Mas , ini ibu Candra mau numpang kekamar mandi yang disini ? bini gue dengan polos ngajakin doi kekamar mandi yang ada diruang kerja gue .
? Ya nih Pak Luki , abis kamar mandinya masih lama rasanya dipakai Ibu Agus ?
? Numpang ya , abis udah enggak tahan kebanyakan minum ? biasalah doi basa-basi biar enak dikupingnya bokin .
? Silahkan Bu , tapi enggak papa khan saya nerusin kerja dikomputer , maklum Bu belum jadi pengusaha seperti Pak Juli ?
? Ah Pak Luki bisa aja ? kata doi sambil nyelonong kekamar mandi gue .
Dasar otaknya juga pinter dalam hal berselingkuh , doi buka pintu kamar mandi setengah dan bilang ? Pak Luki , ledengnya rusak ya ? ? bokin gue masih ada lagi disitu . ? Mas coba liat dulu deh , bantuin Ibu Candra , malu-maluin aja kamar mandinya ? bokin gue setengah ngomel . ? Biar dibantu sama Mas Luki ya Bu , dia yang sering pakai kamar mandi itu ? terus bokin balik lagi kekamar tengah , soalnya bokin musti tanggung jawab dong sama rakyat arisannya .
Dengan belagak males – malesan gue berdiri , eits ****** gue masih ngaceng lagi , ah cuek deh .
Mbak Candra ngelirik juga dan secara refleks doi ngeraba selangkangannya , anjir?.terang aja itu tenda celana gue makin tinggi ,
?Hayo , celananya kenapa tu? dia berbisik waktu gue masuk kekamar mandi .
?Kamu sih bikin aku horny , jadi aku yang sengsara deh , mana pakai jean lagi ? gue nekad ngomong gitu sambil ngeraba paha mulusnya . Gilanya doi bukannya marah malah bilang ? Ya , kalau dibagian itu sih belum asyik ?
? Abis yang mana dong kalau asyik ? gue masih setengah berbisik menyelusurin pahanya kearah memeknya yang bejembut gila .
? Nah yang itu baru asyik , kamu juga kalau saya gituin juga asyik lah ? gantian doi yang ngelus ****** gue dari luar sambil coba – coba buka retsleitingnya . Busyet gila juga ini perempuan , mana bau Isei Miyakenya merangsang banget .
Gue enggak tahan , ? Mbak ******* yuk ? kata gue edan-edanan . ? Ayo , kapan dong , mending berani lagi ? tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus ****** gue .
? Eh , siapa takut apalagi kalau *******nya bareng Mbak ? gue sekarang udah berhasil masukin jari kedalam memeknya yang basah dan lembab . ? Besok ya , kekolam renang Ancol , jam 10 ?
Babi banget nih si Mbak , kenapa kekolam renang sih , emangnya gue kecebong .
Besok jam 10 kurang seperempat gue udah stand by diparkiran kolam renang Ancol , gue telepon dia dengan no yang dikasih kemarin secara rahasia .
? Mbak , aku udah sampe nih , kamu dimana ? gue rada was was juga kalau doi enggak dateng .
? Ini aku baru mau masuk Ancol , tungguin ya , ******nya udah ngaceng lagi belum ? sialan ngetest gue kali , tapi koq kedengarannya rame banget sih ada yang cekikikan dibelakangnya .
Mati gue , jangan – jangan gue mau dijebak , siapa tau dia bawa bokin gue juga .
? Kamu sama siapa sih , koq rame banget , gue jadi bisa enggak ngaceng lagi nih ?
? Janjinya gimana sih , katanya mau ML eh kamu bawa orang lain ? setengah kesel gue ngomong ditelpon .
? Pasti deh janjinya , pokoknya asyik banget kamu nantinya ? dia ngalemin gue .
Enggak sampai 10 menit , mobil Honda putihnya mendarat persis disamping mobil gue .
? Surprise , nah ketauan ya enggak ngajak – ngajak kita ? suara 2 Ce temennya Candra teriak bareng .
Waduh pucet banget gue , karena ternyata yang diajak juga tetangga gue , Mbak Rina bininya pak Joko dan Mbak Ita bininya
pak Raja . Salah tingkah abis gue . ? Eh , kaget ya , take it easy aja , khan udah kenal , asyik-asyik aja deh pak Luki , eh kalau diluar Mas Luki dong ? Mbak Ita yang mungil dan putih ( persis banget Kris Dayantie ) itu nyerocos aja membuat suasana jadi enggak tegang . ? Enggak deh kita bilangin sang istri ? si Rina yang body dan facenya seperti Dian Nitami nambahin , ya gue makin
ngerasa siep banget dong . Tapi kewaspadaan tetap dipertahankan jangan lengah man .
Setelah basa basi bentar , ? Udah ya , pokoknya enggak ada yang boleh tahu selain kita – kita ya Mas ? Rina sekarang yang
membuat gue makin PD . ? Pokoknya enjoy aja deh , kita bertiga udah kompak berat lho ? Candra tanpa sungkan ngegandeng gue
menuju loket . ? Khan gue yang janjian sama Mas Luki , elo pada jangan ngiri ya , entar juga kebagian ? .
Kepala jalan sekarang si Rina , doi pesen kamar ganti dan bilas keluarga . Sekalian pesan ban renang 2 buah yang guede banget .
Ampun , ide apalagi sih . Seolah kita sekeluarga enteng aja mereka ngajak gue masuk bareng keruang ganti dan bilas .
Denngan tenang mereka buka rok , baju dan terus BH , sialan mereka tenang aja seolah gue enggak ada disitu .
Gila aja kalau gue enggak ngaceng liat Candra , Rina dan Ita yang umurnya sekitar 30 an pada memamerkan bodynya .
? Eh , Mas Luki mau berenang atau mau nonton kita streap tease ? kata si Ita sambil buka BH putih transparantnya .
? Ya terang mau berenang dong , tapi aku maunya sih bilas dulu ah , masak langsung berenang ? gue akal – akalan supaya mereka juga mau berbulat ria , tanggung amat baru liat toket dan setengah body .
Gue buka baju dan celana , begitu tinggal CD mereka teriak bareng ? Asyik ya , udah ngaceng ?
? He eh abis kalian sih begitu merangsang dan mempesona ? kata gue sembarang siap – siap mau buka CD gue .
? Ah enggak fair nih , masak jadi aku duluan yang telanjang , barengan dong jadi aku enggak malu ?
? Hu?maunya tuh , ya Candra kamu khan yang punya ide , kamu dulu dong?mana jembutnya aduh udah pada keluar tu ?
kata si Ita sambil narikin jembutnya Candra yang nongol terus dari pinggiran CD .
? Aku sih Ta prinsip , sekali buka celana pantang kalau enggak di???
? Joss !!!!! ? Ita dan Rina seperti koor nerusin apa maunya si Candra .
? Ia deh , gue juga malu khan kalau keluar kamar ganti nanti swempaknya ada tenda mancung ?. Cari pembenaran dong .
? Bisa bubar orang dikolam nanti , elo pada mau ya gue jadi tontonan ? gue belagak memelas sambil nunjukin si Monas.
Supaya enggak kaku , gue datengin si Candra yang masih berdiri dekat gantungan baju , gue peluk doi dengan kedua tangan dibagian pantatnya , gue cium bibirnya ala French kissing , lidah saling ketemu .
? Wow , nafsu nih ya ? si Ita ngeledek . Asyik banget deh pantat si Candra yang nonggeng gue remes – remes , tempelin abis mekinya dengan ****** gue , Candra langsung horny pingggangnya digoyang yang otomatis mekinya berputar diatas ****** gue .
Sekitar 3 menit adegan itu gue pertahankan , sebenarnya gue udah nafsu banget mau langsung masukin ****** gue kememeknya
Candra yang gue yakin udah basah . Sabar cing gue musti cool dong , pasang strategi soalnya masih ada 2 nonok lain menanti .
Perlahan gue melorot , dengan tetap mata memandang dia tangan gue pindah berputar meremas perlahan toketnya yang pentilnya
relatif masih belum gede . ? Eh elo jangan ngiri , sementara belum dapat giliran elo pada meremas sendiri aja dulu ? masih sempat juga Candra ngeledek temannya yang terpana melihat gue yang sambil meremas toketnya sambil usaha jongkok depan dia , pakai gigi gue tarik perlahan CD nya . ? Enak ya Can remasannnya Mas Luki ? ? Rina bertanya tanpa arah karena gue tau dia juga tanpa
sadar meremas dan memilin pentil toketnya .
? Kita suruh buka sendiri ya ? Ita protes narik sedikit CDnya sambil tangannya ngobel memeknya sendiri .
? Sini dong sayang , tangan gue enggak sampe kalau elo pada jauh – jauh ? Gue enggak bisa ngomong panjang lagi karena Candra narik kepala gue kearah nonoknya minta dijilat , setelah CDnya melorot sampai dengkul kakinya .
Anjir?.kesampean juga gue jilatin dan rasain nonoknya Candra yang jembutnya gilaaaaaa !!!!!
Itilnya agak gembung , merah banget , gue tahu setelah berupaya keras menepis bulu jembutnya .
Sejenak ruang ganti sunyi , sambil ngejokil abis liang kenikmatannya Candra gue solider untuk pelorotin CD nya Rina dan Ita barengan , dan inilah pemandangan matanya pemirsa sekalian :
Candra , toketnya 34 bentuknya bagus banget , pentilnya agak gede kecoklatan , kulit seluruh bodynya coy kuning kencang mengkilat , bagian pantat ada sedikit selulit , jembutnya?khan udah tau elo pada en bulu keteknya idem ditto.
Yang jelas enggak rapi , serabutan menutup semua bagian memeknya mendekati puser .
Sambil ngedorong pantatnya kedepan supaya lidah gue bisa lebih dalam masuk kelobang nonoknya , dia terus mendesah ,
kaki kananya ngegesek pelan ****** gue dari luar CD , sambil usaha masuk dari samping CD .
Rina , yang gue pelorotin pakai tangan kanan , toketnya gede agak panjang seperti pepaya , kulitnya sawo matang , maklum Jawa
Solo sepertinya , bulu ketek anti cukur , serabutan disekitar susunya yang 36 . Pentilnya agak masuk kedalam .
Pahanya kencang , tinggi sekitar 170cm , jembutnya keriting rapi , diatur sekitar lobang nonoknya ( Sering berbikini kali..)
Lobang nonoknya memanjang , dibawah lipatan perut ada bekas jahitan Caesarnya .
Doi terus meremas susunya sambil liatin tangan gue yang lagi berusaha nurunin CD pinknya .
Supaya cepat , doi ikut ngebantu nurunin CDnya .
Ita , siimut , tinggi sekitar 158 lah , jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan ,
toketnya kecil kenceng ukuran 32 , perutnya rata , paling kalem keliatannya tapi tangannya aktif terus megangin bokongnya sendiri , jangan – jangan doi paling hobby dibol dari belakang .
Ngimpi apa gue liat tetangga gue pada telanjang bulet , elo elo yang belum ada pengalaman maen sama bini orang , gue anjurin deh elo cari mereka bertiga , enggak resek , berpengalaman dan tahu penuh apa enaknya ML .
Kalau mau orgy cari yang sehati , kompak istilahnya dan enggak egoist , artinya mereka berupaya menikmati SEX sepenuhnya tanpa ada rasa sungkan , rilex dan terbuka .
Hal ini juga gue buktikan sebelumnya dengan 2 sahabat mahasiswi yang kompak , tapi ya kita harus konsider atas kebutuhan jajannya lah , jangan merki . Kurang yakin kemampuan ya modalin VIAGRA yang paling mahal Rp. 150.000 / pil 100 mg .
? Ya kamu pada mandi dulu deh dishower ? kata gue pelan , sambil menjilat sisa juicenya Candra yang ada disekitar bibir gue .
Candra enggak bereaksi , dia nuntun gue ketempat duduk , pas gue duduk dia jongkok didepan gue dan brebet dia tarik CD gue ,
dia pandangin seluruh kostruksi ****** gue , enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain ,
? Aduh gede amat ******nya , atau sok ngebandingin sama ****** Co yang lain , itusih kuno , tipu?.!!! Jangan mau elo dibohongin sama yang bikin cerita , itukan cuma kebanggaan semu , yang penting gocekannya bukan gedenya , emangnya mau modal berat aja?tipuuuuu???
? Jangan kelamaan Can , langsung maenkan , tunjukan kecanggihannya , apa perlu gue nih yang terjun ? Rina sewot ngeliatin Candra yang masih memandang ****** gue sambil ngurut dari arah palkon kepangkalnya , tanpa komentar sambil tangan kirinya kasih kode enggak perlu , langsung ****** gue mulai dijilatin perlahan .
Seluruh kepala ****** gue ( helmnya ) dijilat berputar , doi tau bagian yang paling enak yaitu dibagian bawah Palkon sekitar sambungannya . Cairan bening gue dijilatin sambil matanya memandang arah mata gue , seolah butuh pengakuan atau komentar
Gue cuma bisa angkat 2 jempol , bravo go ahead Can .
Selanjutnya cepet banget lidahnya bergeser enggak berhenti menari disekitar batang ****** , begitu dikemot kedalam mulutnya yang memang sexy dia keluarin cadangan ludahnya , jadi rasanya ****** gue berenang didalam air ludah , enggak ada rasa gigi Cing , belajar dari banci Taman Lawang kali .
Gue udah seperti kura – kura yang dibalik , kaki gue kelayapan , gue tumpangin diatas pundaknya sambil kalau gue udah enggak tahan kepala si Candra gue bekep abis sama paha gue .
? Rina – Ita sini dong , gue mau nih megangin tetek dan nonok kamu ? Enggak sampai 2 kali order mereka langsung nyamperin gue dan Candra . Si Rina nyodorin susu pepayanya minta gue isap dan siimut Ita ngangkat kaki sebelah keatas bangku , berdiri disamping gue dan minta dirojok nonoknya dengan telunjuk gue yang masih bebas karena belum ada order .
Gue pegang nonoknya yang merah sudah rada becek , maklum turunan Cina , begitu telunjuk gue masuk dia yang gerakin pinggulnya maju mundur kaya lagi ******* aja gayanya .
Doi merem melek ngerasain bulu – bulu yang ada ditangan gue , tangannya ngusap pentil susu gue secara beraturan .
Bibirnya ngejilatin bagian dalam kuping gue yang rada caplang , kadang ngemut juga bagian gelambir telinga ogud , terus berbisik
supaya enggak kedengaran sama yang lain ? Mas Luki , pejunya jangan diabisin semua ya , kamu mau enggak ngerasain bokongnya Ita ? ?Busyet bener khan doi doyan dibool , buktinya begitu gue pindahin jari kelobang pantatnya udah rada longgar ,
gila kali pak Raja , doyan bener sodomi bokinnya yang imut .
Gue cuma ngangguk dan nyodorin bibir gue buat ngerasain juga ciumannya si Ita .
Wangi banget deh si Ita , bau Kenzonya makin ngerangsang gue .
Biar adil nonoknya Rina yang jembutnya rapi gue rojok juga , masih agak kering tapi mantap itilnya tebal , karena ngerasa agak dicuekin kali , enggak sabar si Ita sekarang jongkok dibelakang Candra , tangan kanannya ngelus tetek dan pentilnya Candra dan tangan kirinya berusaha ngobok – ngobok nonoknya Candra yang makin basah , soalnya gue liat kadang – kadang si Ita jilatin jarinya yang basah berlendir , apalagi kalau bukan juicenya Candra yang asyik banget rasanya .
Candra makin asyik aja nyepong gue , badannya menggeliat – geliat karena keasyikan dikobel Ita , gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra , entar gue timpa juga deh boolnya Candra , gue berandai andai .
Gue cuma bisa teriak kecil ? *******?..gila ******* enak bener sama kamu pada , Candra uhhhh?uhhhh?.abis ini gue entotin elo ya , gue nggak mau *******in kamu dari belakang , gue mau ******* sambil terus ngeliatin nonok kamu yang jembutnya gila..?
? Rina , gue mau *******in kamu sambil duduk biar gue bisa terus meres tetek kamu yang sexy banget ? gue ngomong terus ngaco .
? Ta , gue *******in kamu dari belakang ya Ta , gue pengen ******* dilobang pantat Ta , abis elo sexy banget sih goyangnya ?
Elo gue saranin deh kalau lagi ******* musti sering – sering ngomong yang vulgar , Ce jenis apapun makin nafsu dengernya ,
dan elo gue jamin makin nafsu kalau Ce yang bukan Cabo atau Pecun teriak ngomong vulgar juga . Wuih ai jamin dah?..
? Mas Luki , nanti pejunya buat Rina juga ya , jangan disemprot semua kemulutnya Candra ? Rina sambil narik perlahan rambut gue juga turut berharap dengan memandang nafsu kerah ****** gue yang udah abis dikemot Candra .? Terus gue kebagian apa dong , gue mau juga dong ngerasain pejunya Mas Luki ? Ita protes ke Rina pura – pura belum minta jatah dari gue .
Enggak tahan gue tarik ****** gue yang enggak begitu gede dari mulutnya Candra , gue dudukin si Rina kebangku ,
gue kangkangin pahanya yang juga seperti si Dian Nitami , penasaran gue sih mau liat dalemnya .
Gue jilat itilnya yang udah rada ngegelambir , gile cing juicenya asyik banget rasanya , banyak banget dan meleleh ke bagian lobang pantatnya . Tanggung gue jilat sekalian lobang pantatnya yang berwarna coklat , yang didalamnya masih juga bejembut .
Candra bantuin ngisepin teteknya Rina , tangannya ikut bantu ngedorong kepala gue supaya makin masuk ngejilatin nonoknya Rina
yang rapi tercukur jembutnya . ? Ah gila Candraaaaa??.Mas Luki enak banget ya jilatannya , aduh mama?..mama?.aku ndak
tahan nih ,?..Candra elo apain sih pentil aku?.enakkkkkk Can?.? Rina meronta – ronta yang membuat toketnya bergelantungan kekiri dan kekanan , pemandangan semakin horny cing .
Eh kemana si imut Ita , doi kalem aja , pantat gue diangkat pelan sampai ketinggiannya sejajar kepala gue yang berada didaerah selangkangan Rina , doi duduk menyelinap melalui selangkangan gue sekarang jadi duduk menghadap ****** gue yang terayun bebas . Cepat dan tangkas dia hisap ****** gue dengan mulutnya yang mungil , maju mundur berupaya menelan habis seluruh batang ****** gue . Sesekali dia pindah mengulum biji peler gue yang jembutnya lumayanlah , wuih cing asyik banget??.
Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang , dia remas – remas pantat gue..
Gue kaget , tiba tiba ada rasa aneh geli – geli asyik dilobang pantat gue yang sedikit berjembut ,?.ih apaan sih ?
Anjir ?..rupanya lidahnya Ita yang menari disekitar lubang pantat yang kadang – kadang dia coba julurin masuk .
Nah sekarang gue enggak heran kenapa Homo doyan dimonon , rupanya emang enak kalau bool kita dimasukan sesuatu .
?Ta?..terus Ta?.entar gantian deh gue jilatin anus kamu yang merah jambu?..terus Ta?asyik?, enak gila?..? gue sejenak melupakan tugas ngejilatin nonoknya Rina .
? Mas Luki?.Rina hampir nih?.lagi dong jilatin?.tanggung dikit lagi Mas?aduh tega ya?.? Rina mengharap gue bertindak .
Langsung gue sosor lagi nonoknya , gue jilat abis lelehan juicenya yang mengarah kelobang pantatnya , gue jilat terus ?menuju
bolnya dan Rina makin menggeliat – geliat seperti ayam yang dipotong tanggung .
? Mas?..entotin aku dong , sebentar aja deh pasti keluar ? Rina mengangkat kepala gue sambil berharap benar .
Gua bertindak gentle dong , jangan buat dia kecewa , secara berlutut gue pegang batang ****** gue yang masih basah karena
campuran ludahnya Candra dan Ita . Ita sigap pindah tempat disisi kiri Rina , sementara si Candra tetap pada posisinya dikanan
Rina sambil terus meremas toket pepayanya Rina .
Kesemuanya kelihatan menanti apa yang akan terjadi , ? Candra – Ita , gue *******in Rina duluan bukan berarti elo pada gue nomor duakan , gue janji deh elo semua satu persatu akan gue entotin juga ?
? Okay Mas , buat kita enggak ada masalah yang penting kita bener – bener ML ? Candra memberi semangat .
Gue salut abis sama si Candra , solidaritasnya tinggi , tidak egois , pantas dia jadi kepala gang .
? Ya Mas Luki , khan Mas Luki nantinya bisa ganti namanya jadi Mas Cipto ( Cicip roto ) ? si Ita ikut nimpalin .
Perlahan gue arahin ****** gue yang bentuknya agak mengarah kekiri kepalanya , enggak sulit masukin nonoknya Rina ,
tapi buat menghargai doi gue pura – pura merasa susah dong .
Blebessss??gile cing , emang bener ******* tu enak banget .
Gue tolak pinggang pakai tangan kiri , ****** gue yang 15 cm maju – mundur terus , meliuk kiri kanan , berputar mencari itil dan G spotnya Rina ???.? Mas Luki ,??ya..ya?yang disitu yang marem Mas ? Rina bergetar , semua bagian bodynya yang enak – enak ada yang bertanggung jawab , nonok – toket kiri dan kanan , lobang pantat ada koordinator lapangannya ( KorLap )
? Enak ya ******nya Mas Cipto ..eh Mas Luki ?.,?terus Rin ..goyang terus Rin?nikmatin abis?jangan ditahan – tahan ? Candra
tetap memilin pentilnya Rina sambil matanya nafsu melihat ****** gue yang bekerja dimemeknya Rina .
? Ayo terus Mas Luki ?bikin si Rina puas ,?sini dong tangannya yang satu ? Candra bernasehat sambil minta jatah dirojer nonoknya . Kalau mau jujur seharusnya gue musti muasin Candra duluan , disamping memang target utamanya khan dia tadinya ,
enggak pakai dua kali lagi gue masukin jari tengah gue kedalam nonoknya yang sudah semakin basah .
? Aghhhhhh?.agh??. aku dapet Can?aku dapet Ta??, Mas?.ini ya Mas rasanya enaknya ******* ? Rina makin mengelinjang .
? Mas?.nanti lagi ya?.Massss??.asu?.asu?..peline kui lho Mas?, maremmmmmm? hu?keliatan aslinya deh si Rina , keluar Jawanya . Gue tancep lebih dalam ****** gue , tanpa gerakan lagi gue pendam habis?.dan emang bener enaknya Ce Solo ,
tau enggak lo?tiba-tiba gue merasa ada sesuatu yang berputar – putar cepat dibagian kepala dan batang ..
? Aduh..aduh apaan nih Rin , aduh?gila asyik – asyik?.? gue senyum sambil terus tancepin ****** gue .
? Nah , baru tau dia ?makanya jangan main – main sama Ce Solo ? Rina nyubit perut gue sambil senyum lebar ngeledek .
Perlahan gue tarik keluar ****** gue yang masih ngaceng abis , keliatan makin berurat kayaknya .
? Waduh Candra , enggak salah deh kita janjian sama Mas Luki ? kata Rina sambil balik meres toketnya Candra dan Ita .
? Bener ya Rin , enak banget ya *******nya?.ih kamu keringetan banget deh ? Ita melap keringat disekitar leher sampai perutnya Rina .
? Hayo ,sekarang siapa nih yang bertanggung jawab mengeluarkan peju gue ? dengan pura – pura marah gue liat kearah Candra .
Soalnya seperti gue bilang , Candra adalah target utama , jadi dia musti tau dong .
Elo ngebayangi enggak sih Candra seperti siapa , tidak lain adalah paduan antara Iis Dahlia dan Cut Keke , nafsuin khan .
Nah gimana gue *******in Candra dan siimut Ita , ya ntar deh gue terusin ceritanya .
Elo boleh bilang bullshit , tapi yang diatas adalah cerita bener?.meskipun ada yang sedikit salah , soalnya gue enggak tahu persis
sebenarnya mereka mirip siapa?.yang jelas ******* bareng mereka asyik banget .
Satu saat , kalau mereka udah bosen ******* sama gue sendiri , elo gue ajak joint deh .
Mereka fair banget , karena memandang Sex adalah sesuatu yang harus dinikmati , yang penting jaga rahasia .
Kita harus menghormati status dan privacy keluarga mereka dong , baru kita akan sangat dihargai juga oleh mereka .
Buat pembaca Ce , mereka juga welcome kalau ada yang mau joint .
Mereka bukan lines koq , cuma sekedar pecinta Sex yang sehat , bersih dan tanpa rasa tabu dalam melaksanakannya.

(hot) a tight valentine’s day



Lynn felt sad and depressed because it was Valentine’s Day and she did not have a sweetheart. She was a beautiful young woman with a perfect and sexy figure. Her bust size was 48DD. She knew that men always adored her globes but couldn’t understand why she didn’t have a sweetheart or a lover at least for Valentine’s Day. She decided to go for a jog on the beach. She put on her loose fitting shorts and a very revealing top. She liked the way her breasts were pointy and her nipples felt so good as they rubbed against the soft fabric. She reluctantly left the house and jogged all the way to the beach.
There weren’t too many people out yet — it was only ten in the morning. She was jogging hard now and was sweating profusely. Several men stared as she passed them and let out wolf whistles. This made her smile and she stopped to lean over as if tying her shoe laces so they could get a good glimpse of her goodies. The men’s eyes almost fell out of their sockets and they drooled at her immense tits. She saw the effect she had made, winked and jogged on. She got a little turn on from that display. She was tiring now and began to slow her pace. As she got near the lifeguard’s station, she saw a real hunk of a man standing and talking to the lifeguard on duty for the day. He was a tall and bronze god-like hunk. His black bathing trunks fit him perfectly and his manhood was outlined for all to see.
She could see at least a ten-inch length hanging in his trunks and did she want to circle her tongue on that. What a nice Valentine’s gift to herself that would be. If she couldn’t have a sweetheart, then she could have a big dick between her legs before day’s end. Well it was time for her bold display of her overstuffed tits again. She was right in front of that man of her dreams and she bent down to supposedly tie her shoe laces again. One of her huge breasts actually fell out of her top. The men were watching very intently. She feigned embarrassment and quickly tried to push it back in place but it seemed to have a mind of its own. The nipple hardened and her breast just bounced right out of her hand. The hunk walked over and gently kneaded her run-a-way breast and pushed it back inside her top. Shock waves ran over her body. His hands were so gentle and struck nerves all over her body.
“Hi hot lady, my name is Ray,” the bronze god said to Lynn. She barely could move her lips as she stammered, “Hi, I’mmmmmmmm Lynnnnnnn.” It now was her turn to drool for he was inches away from her body. His dick stood up and it seemed too big to be real. Ray went on, “Your body is a real dick turn on; Let’s go for a swim to cool me off.” Lynn beamed and they both ran for the water. Her love juices were flowing and she could tell that her shorts were moist already. She didn’t mind at all that she didn’t have on a bathing suit. She would do anything for this man whom she had just met. Ray let Lynn swim ahead of him for a little bit. He swam harder and caught up to her. He reached out and pulled off her top to fully expose her gigantic breasts. He got close to her and pinched one nipple and then the other. Lynn moaned, “Ooohhhhhh.” Ray swam a little ways from her and came back underneath as he pushed his hand into the front of her shorts. Lynn was burning up now. His touch was exquisite and she wanted to ride his hand all day if she could. She pushed against his hand and one finger glided into her pussy hole. She moved up and down and down and up against his finger. Ray did not want her to cum yet so he quickly pulled his finger out of her. Lynn was disappointed that she had missed an orgasm. Ray slid his hands along the waistband of Lynn’s shorts and yanked them off of her. She blushed, “Ray, I can’t go completely naked out here.” “Shut up and enjoy it,” he responded. Ray brushed his dick against her legs and she almost reached her peak right there and then. He then pulled her to him and moved his dick between her legs. His dick felt like what she imagined a stallion’s would be like. It was at least four inches wide and it had to be twelve inches long. Lynn was breathing heavily and Ray was enjoying her horniness. He wondered whether she could take all twelve inches of him but would soon find out. Ray let go of his hold on her and swam underneath her. He opened her legs and clamped onto her clit.
Then he began to suck and suck it harder and harder. Lynn wriggled and squirmed and oooooohhhhhhh and came right into his mouth. He swallowed her sweet cum and then came up for air. Next he told her to suck on his dick. Lynn took a deep breath, swam underneath him and opened her mouth wide as he pushed his dick partly into her mouth. It was so huge and it almost choked her. But she was hot for him and tried to get as much into her mouth as she could. Ray reached behind her and spanked her hard and heavy-handedly. She encircled his penis tip with her hot and roving tongue. She couldn’t breathe but he held her firmly in place so she couldn’t come up for air. She thought she would lose consciousness before he finally let his load off into her mouth. She came up for air with a mouthful of his cum. She was about to spit it out, but he told her to swallow every last bit of it. She had never swallowed cum before and it wasn’t too bad. As a matter of fact, it was good. He seemed to be the controlling type, but right now she certainly didn’t mind. She only wanted a good fuck on Valentine’s Day.
At this point, Ray pointed out that they were going to swim to the cave on the other side of the beach. Lynn followed him there. Once there, he pulled down some flowers and vines to make a makeshift bed for them. It was in the shape of a heart. He indicated to her that it was a Valentine’s bed to fuck on. He made it especially for her and her heart leapt with joy. She didn’t mind the crude way he said it to her. Her pussy was dripping with juices and needed to be satisfied — minor imperfections of his wouldn’t bother her now. Ray pulled Lynn down beside him and began to suck on her nipples and she was immensely aroused. Her nipples grew a full 1/2-inch with his ministrations. He was rough at times and then gentle. She let out a low growl, “yeoowwwwww, that hurts but it feels so damn good, Ray.” Then she came with a full force. Her love juices flowed all over the Valentine’s bed. She straddled Ray and took his erect penis into her hands as she kneaded it and rubbed it up and down. “Suck it baby, suck it hard,” yelled Ray. Lynn obeyed him and she slurped and sucked and sucked. He spurted his cum down her throat and she gladly drank until he had no more.
Ray pushed Lynn off him and told her to lie down. She did as she was told. Ray whipped his hard-on between her legs. It was amazing how he was erect again so quickly. He seemed to be half man and half horse looking at the size and width of his dick. Lynn licked her lips and anticipated what was coming next. She was wet and Ray shoved his huge cock into her pussy hole. She was small though and it wouldn’t go in further than two inches. Lynn screamed in pain. She wanted this fuck but he was larger than she thought. Ray kept rocking back and forth for he couldn’t stop now — nothing could stop him now. He got another inch inside her wet pussy. His dick filled her up completely and there was more to go. Lynn thought she would go mad with the pain she was experiencing. “Stop Ray, pleeeeeease stop,” begged Lynn. She thought this part man, part horse, would rip her insides apart. His dick seemed to be getting larger all the time. Ray heard nothing. He was in another world. One where his dick ruled and it would not be denied. He pushed harder groaning all of the time. Another inch in.
Lynn was beating at his chest and trying to push him off. He was ram rod hard and strong as a bull. He pulled her legs wider and stretched them back behind her as far as they could go. He felt a little give and another inch of his manhood squeezed in. This was going to be the best Valentine’s fuck he had ever had. Each Valentine’s Day, he always seemed to have a new conquest and one that was too small for his giant of a dick. But perseverance and determination always won for him. Lynn was gurgling at this point. She was in so much pain and saw death as the only way out for her. This fuck certainly wasn’t what she thought she wanted or needed. He was a damned mad man and one with a dick that wasn’t one of this world. She kept trying to make him stop. She screamed and screamed but no one was around to help her and even if there had been someone around, nothing would have been able to stop Ray — not now. He was ramming her harder and harder. Her pussy lips stretched wide and tight against his dick. She thought she would split at any moment. “Fuck me, fuck me, fuck me,” Ray kept saying over and over as he grinded further into this woman with the big tits. Too bad her pussy hole didn’t match the size of her titties he thought to himself.
Lynn couldn’t stop screaming. She felt like a caged animal about to be slaughtered on Valentine’s Day no less. When she thought he had no more dick to push inside her tight pussy, another inch seemed to be added on. Ray put his hands under her ass and pulled her closer to his dick. He could fuck her for the rest of the day. Ray felt himself about to cum and “Oh Goddddddd, I am cumming,” he growled. Lynn felt that this was her saving grace. She just knew that he would shoot all of his cum inside her and then his dick would gradually slide out and she would be saved. He slowly pulled out of her, but no such luck; his dick sprang to attention again. He fell back onto their Valentine’s sex bed and pulled her on top of him. Lynn kept saying, “No, no, no I can’t endure anymore; Please let me go before your big assed dick kills me.” Ray would hear nothing of it. He spread her legs and commanded, “Sit your pussy on my dick and swallow it up inside of you.”
A miracle happened, as Lynn reluctantly sat her pussy hole onto Ray’s huge cock, it began to go in slowly and deeply until all of it was inside her. She felt such a relief and began to slide up and down on his half man, half horse cock. She was filled with a fire that would not be quenched for a long time. Ray smiled as he saw the joyful expression on Lynn’s face. He pushed up and she pushed down. Her pussy hole seemed to expand and allowed his dick easy entry in and out in and out they went. They both became animals of the wild, needing sex and wanting more and more. Lynn moaned and she groaned, “ooooooooooohhhhhh, aahhhhhhhhhhhhh, give me all of your big cock, Ray, give it to me all the way.” Ray shoved it hard and she rocked back and forth. They sped up and shock waves washed over their bodies, their brains and their sexual members. Love juices flowed for hours non stop. They both experienced orgasm after orgasm on Valentine’s Day and her pussy was stretched and made ready for this half man, half horse cock too.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: